WELCOME TO MY WORLD



Kamis, 16 Juni 2011

artikel


Nama : Zulaiha
NIM   : 06091010017
Prodi  : Pendidikan Kimia                           
Unggul belum tentu Pintar
Di zaman yang serba susah begini manusia akan melakukan apa saja hanya untuk “mengisi perutnya”. Sudah tidak bisa membedakan lagi yangmana yang halal dan haram dan tidak takut lagi akan dosa. Hal itupun terjadi di dunia pendidikan. Banyak oknum yang tidak bertanggung jawab malah memanfaatkan jabatannya untuk melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan. Saat penerimaan siswa baru misalnya, sering kita lihat banyak anak-anak yang nilainya bagus di sekolah malah tidak masuk ke sekolah unggulan, sedangkan siswa yang biasa-biasa saja, nilainya tidak terlalu bagus malah bisa masuk ke sekolah tersebut. Pasti hal ini menimbulkan tanda tanya besar di kepala kita! “Apa benar dia lulus murni?? Sedangkan saat dulu di sekolah nilainya jelek! Koq bisa masuk sich??” hal itu pasti terpikir dalam benak kita.
Hal tersebut bukan hanya karena diakibatkan oleh oknum yang “gila” harta tapi juga oknum yang “gila” pujian. Banyak wali murid tidak ingin anaknya masuk di sekolah nonfavorit. Karenanya, berbagai cara akhirnya dilakukan wali murid guna meluluskan anaknya agar masuk sekolah favorit. Mereka dengan sangat bangga masuk ke sekolah unggulan dan favorite, agar terlihat pintar dan berkelas. Hal ini biasanya dilakukan oleh kaum-kaum “elite” dan beruang. Karena uang suap yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh siswa yang pintar namun tidak mempunyai banyak uang? Untuk masuk ke sekolah swasta, dia harus membutuhkan lebih banyak uang karena biasanya sekolahan swasta apalagi yang mempunyai fasilitas yang lengkap membebankan siswa untuk membayar uang SPP yang besar. sedangkan sekolah negeri yang memberikan keringanan dengan pembebasan uang SPP malah dia tidak lulus karena tersingkir oleh golongan orang-orang kaya. Maka tidak sedikit diantara mereka yang memilih tidak sekolah. Betapa sangat disayangkan, seorang siswa yang pintar malah tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Coba bayangkan jika saja tidak ada kecurangan yang terjadi, maka anak yang pintar tersebut dapat terus melanjutkan sekolahnya dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Tapi, apa yang bisa kita perbuat jika dia tidak mengenyam pendidikan? Lama-kelamaan kita akan makin kekuangan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut.
Sebelumnya, kecenderungan untuk memberikan kenang-kenangan pada guru atau wali kelas di sekolah anak ketika kenaikan kelas makin ’’mewabah’’ di masyarakat. Saat pembagian raport pada akhir semester hal seperti itu sangat sering kali terjadi. Nilai dalam raport bisa dimanipulasi dengan sangat mudah. Nilai yang kecil, dengan sangat mudah di rubah. Ada orang tua yang memberikan kenang-kenangan ini secara individual, ada pula yang menggunakan cara iuran. Fenomena serupa juga terjadi kala penerimaan siswa baru.  Bahkan terkadang, orang tua memaksakan diri dalam hal ini. Padahal pada penjelasan pasal 12 b ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) secara tegas dinyatakan fenomena ini masuk dalam indikasi gratifikasi.
Cara-cara kotor seperti itu harusnya segera di berantas, dengan cara menyelidiki mengawasi proses penerimaan siswa baru. Oknum yang melakukan sebaiknya segera diberikan sanksi penjara. Agar pendidikan di indonesia ini bisa maju dan menghasilkan sumber daya manusia yang semakin hari semakin berintelektual, semakin maju dan semakin bermoral. Sekolah yang baik harusnya memperhatikan input siswa tersebut, jika inputnya saja sudah tidak baik maka ditakutkan outputnya nanti tidak akan baik juga.
Sebenarnya banyak sekali kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan ini, mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Mungkin hal ini terjadi karena oknum yang melakukan tidak memiliki moral yang baik. Kurangnya pengetahuan tentang agama bisa jadi salah satu penyebab hal tersebut.
Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Banyak sekali pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Seperti yang sedang kita bahas  kali ini, banyak guru bahkan kepala sekolah yang merupakan orang berpendidikan yang dikatakan pintar, bisa menjadi bodoh saat dihadapkan dengan uang.
Suap menyuap ini sebenarnya telah terjadi sejak dahulu, mulai dari sekolah dasar, sekolah menegah hingga perguruan tinggi. Semua orang sudah dibutakan oleh uang,uang dan uang!! Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan.
Maka tidak heran kalau banyak sekali kaum yang dikatakan “terpelajar” malah “kurang ajar”, bayangkan saja jika dari awalnya saja dia sudah menipu, terlebih menipu dirinya sendiri. Karena sebenarnya dia tidak mampu untuk bersekolah di sekolah tersebut namun dipaksakan untuk itu. Tidaklah heran kalau saat ujian banyak sekali kecurangan yang terjadi, seperti terjadinya kebocoran soal dimana adanya tim sukses saat ujian berlangsung. Dan seterusnya pun dia akan menipu orang lain.
Seperti yang pernah saya baca di http://radarlampung.co.id
Direktur Eksekutif Pusbbik Lampung Aryanto Yusuf  menyatakan bahwa Pelaku pendidikan dasar dan menengah harus berani bersikap tegas membersihkan suap dalam pelaksanaan penerimaan siswa baru (PSB). Menurutnya, tindakan suap sudah masuk ranah pelanggaran hukum yang harus diproses sesuai hukum yang berlaku. ’’Jika terbukti ada, maka siswa itu harus di-reject (tolak) dari sekolahnya. Dan pelaku penyuapan harus ditindak tegas sesuai ketentuan berlaku,” tandasnya.
Hal senada ditegaskan Ketua Komisi D DPRD Bandarlampung Jimmy Khomeini. ’’Disdik (Dinas Pendidikan) harus membentuk tim untuk mengawasi pelaksanaan PSB di setiap sekolah favorit, sehingga berbagai bentuk kecurangan bisa diantisipasi terlebih dahulu,” ungkapnya.
Menurut saya hal ini harus dilaksanakan agar tindakan suap-menyuap ini tidak terus berkembang dan mewabah seiring perjalanan waktu. Sudah saatnya kita memperbaiki sumber daya manusia kita untuk menghadapi  persaingan dunia yang makin ketat. INGAT!! Kita sudah tertinggal JAUH dari negara lain!!

2 komentar:

  1. Oke Zila..
    ga apa2 tidak ke email juga..dan ternyata sudah punya blog sendiri.
    Bp suka deh dengan kreatifitas ini.
    selamat berlatih membuat artikel kecil tp mantap dan bisa menginspirasi yang lainnya.
    salam hangat guru
    Imron A Hakim

    BalasHapus
  2. iya. .
    makasih bapak. . :))
    cuma mencoba menuangkan perasaan.
    hehe. .
    kalo mw d follow jg boleh pak blog nya zila. .
    hhe. .

    BalasHapus