WELCOME TO MY WORLD



Selasa, 15 November 2011

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II - REAKSI KUALITATIF ANORGANIK


PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II
REAKSI KUALITATIF ANORGANIK

I. TUJUAN
Mempelajari reaksi antara ion logam dengan ion hidroksida dan larutan amoniak.

II. LANDASAN TEORI
Pada dasarnya konsep dasar analisis kimia dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:
1.      Analisis kualitatif, yaitu analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui.
2.      Analisis kuantitatif, yaitu analisis kimia yang menyangkut penetuan jumlah zat tertentu yang ada di dalam suatu sample (contoh)

Ada dua aspek pentig dalam analisis kualitatif, yaitu pemisahan dan idenitifikasi. Kedua aspek ini dilandasi oleh kelarutan, kesamaan pembentukan senyawa kompleks, oksidasi reduksi, sifat peguapan dan ekstraksi. Sifat-sifat ini sebgai sifvat periodic menunjukkan kecenderungan dalam kelarutan klorida, sulfide, hidroksida, karbonat sulfat, dan garam-garam lainnya dari logam.

Walaupun analisis kualitatif sudah banyak ditinggalkan, namun analisis kualitatif ini merupakan alikasi prinsip-prinsip umum dan konsep-kosep dasar yang telah dipelajari dalam kimia dasar. Setelah melakukan analisis kualitatif, diketahui komponen apa atau pengotor apa yang ada dalam sample tertentu, seringkali diperlukan informasi tambahan mengenai berapa banyak masing-masing komponen atau pegotor tersebut. Beberapa teknik analisis kuantitatif diklasifikasikan atas dasar:
a.       Pengukuran banyaknya pereaksi yang diplerlukan untuk menyempurnakan suatu reaksi atau banyaknya hasil reaksmi yang terbentuk.
b.      Pengukuran besarnya sifat listrik (misalnya potensiometri)
c.       Pengukura sifat optis (pengukuran adsorban)
d.      Kombinasi dari 1 dan 2 atau 1 dan 3.

Analisis kualitatif umumnya terbagi atas tiga bagian, yaitu uji pendahuluan, pemeriksaan kation dan pemeriksaan anion. Zat yang dianalisis dapat berupa zat padat non-logam. Analisa kualitatif mempunyai arti mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenis anion / kation suatu larutan.

Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan amonium karbonat.
Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu golongan.

Didalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya:
1.      Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg.
2.      Golongan II : Kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion golongan ini adalah Hg, Bi, Cu, cd, As, Sb, Sn.
3.      Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral / amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr, Co, Mn, Zn.
4.      Golongan IV : Kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III. Kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba, Ca, Sr.
5.      Golongan V : Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan regensia-regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir. Kation golongan ini meliputi : Mg, K, NH4+.



Untuk anion dikelompokkan kedalam beberapa kelas diantaranya :
1.      Anion sederhana seperti : O2-, F-, atau CN- .
2.      Anion okso diskret seperti : NO3-, atau SO42-.
3.      Anion polimer okso seperti silikat, borat, atau fosfat terkondensasi
4.      Anion kompleks halida seperti TaF6 dan kompleks anion yang berbasis bangat seperti oksalat .

Reaksi dalam anion ini akan lebih dipelajari secara sistematis untuk memudahkan reaksi dari asam-asam organik tertentu dikelompokkan bersama-sama. Hal ini meliputi asetat, formiat, oksalat, sitrat, salisilat dan benzoat.

Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu reaksi kering dan reaksi basah. Reaksi kering dapat digunakan pada zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan. Kebanyakan reaksi kering yang diuraikan digunakan untuk analisis semimikro dengan hanya modifikasi kecil.
Untuk uji reaksi kering metode yang sering dilakukan adalah
1.   Reaksi nyala dengan kawat nikrom : Sedikit zat dilarutkan kedalam HCL P. Diatas kaca arloji kemudian dicelupkan kedalamnya, kawat nikrom yang bermata kecil yang telah bersih kemudian dibakar diatas nyala oksidasi .
2.   Reaksi nyala beilstein : Kawat tembaga yang telah bersih dipijarkan diatas nyala oksida sampai nyala hijau hilang. Apabila ada halogen maka nyala yang terjadi berwarna hijau.
3.   Reaksi nyala untuk borat : Dengan cawan porselin sedikit zat padat ditambahkan asam sulfat pekat dan beberapa tetes methanol, kemudian dinyalakan ditempat gelap. Apabila ada borat akan timbul warna hijau.

Metode untuk mendeteksi anion memang tidak sesistematik seperti yang digunakan untuk kation. Namun skema klasifikasi pada anion bukanlah skema yang kaku karena beberapa anion termaksud dalam lebih dari satu golongan.
Anion-anion dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.       Anion sederhana seperti O2,F- atau CN-.
b.      Anion oksodiskret seperti NO3- atau SO42-.
c.       Anion polimer okso seperti silikat, borad, atau fospat terkondensasi.
d.      Anion kompleks halide, seperti TaF6 dan kompleks anion yang mengandung anion berbasa banyak seperti oksalad
Reaksi-reaksi dalam anion ini akan dipelajari secara sistematis untuk memudahkan reaksi dari asam-asam organik tertentu dikelompokkan bersama-sama, ini meliputi asetat, format, oksalad, sitrat, salisilad, benzoad, dan saksinat.

Analisis kualitatif membahas tentang identifikasi suatu zat, fokus kajiannya adalah unsur apa yang terdapat dalam suatu sampel (contoh). Analisis kualitatif sampel terdiri atas golongan kation, anion dan Obat.

Analisis golongan kation
Pada analisis sistematik dari kation maka golongan logam-logam yang akan diidentifikasi dipisahkan menurut golongan berikut:
·         Golongan I, Disebut golongan asam klorida terdiri atas: Pb2+, Ag+, Hg2+
·         Golongan II, disebut golongan hidrogen sulfida, terdiri atas: As, Sn, Sb, Cu, Pb2+, Bi2+, Hg2+, Cd2+
·         Golongan III, disebut golongan amonium sulfida terdiri atas: Al, Cr, Fe, Zn, Mn, Co, dan Ni
·         Golongan IV, disebut golongan amonium karbonat, terdiri atas: Ba, Sr, dan Ca
·         Golongan V, disebut golongna sisa, terdiri atas: Mg, K, NH4+

Analisis golongan anion
Analisis anion dilakukan dengan mengamati perubahan spesifik dari sampel yang diuji meliputi perubahan warna/terjadinya gas/bau dari sampel yang diuji, atas penambahan asam sulfat encer atau pekat. Untuk menganalisis anion dalam larutan, maka harus bebas dari logam berat dengan cara menambah larutan Na2CO3 jenuh, lalu dididihkan. Dalam hal ini logam-logam tersebut akan terlarutkan sebagai garam karbonat, sedangkan anionnya terlarut sebagai garam natrium. Analisis anion meliputi uji:
·         Uji untuk sulfat : Kepada 1 ml larutan sampel ditambah HCl encer hingga asam, tambahkan lagi 1 ml, didihkan dan tambahkan 1 ml larutan BaCl2 jika terjadi endapan putih BaSO4, berarti menunjukkan adanya sulfat.
·         Uji untuk reduktor: 1 ml larutan sampel diasamkan dengan asam sulfat encer, kemudian tambahkan 0,5 ml lagi. Setelah itu ditambah 1 tetes 0,05 N KMnO4. Jika warna ungu hilang, maka ada sulfit, thiosianat, sulfida, nitrit, bromida, iodida, arsenit. Jika warna itu hilang pada pemanasan, maka ada oksalat.
·         Uji untuk oksidator: 1 ml larutan sampel ditambah 0,5 ml HCl pekat dan 1 ml larutan jenuh MnCl2, jika larutan coklat atau hitam, menunjukkan adanya: nitrat, nitrit, klorat, kromat, ferisianida, bromat, iodat, permanganat. Jika hasil uji negatif, maka hanya sedikit nitrat dan nitrit.
·         Uji dengan larutan Perak Nitrat: Uji ini dilakukan untuk adanya thiosianat, Iodida, Bromida, dan Klorida

Analisis Golongan Obat
Analisis golongan obat dilakukan melalui:
o   Pemeriksaan organoleptis yaitu pengamatan pendahuluan dengan menggunakan indera kita, dilihat, diraba kehalusannya dengan ujung jari, dibau dan dirasakan.
o   Kelarutan. Zat dicoba diselidiki kelarutannya dengan bermacam-macam zat pelarut baik anorganik dan organic.
o   Fluoresensi dibawah lampu ultra violet. Bentuk serbuk dalam larutan dilihat dibawah lampu UV.
o   Pengarangan dan pemijaran. Pengarangan bertujuan untuk mengetahui zat yang diperiksa organik atau anorganik, sedangkan pemijaran untuk mengetahui zat yang diperiksa mengandung anion atau kation.
o   Analisis elemen, dilakukan seperti pada praktikum kimia organik untuk mengetahui unsur-unsur penyusun senyawa tersebut : C, N, S, P atau unsur halogen : Cl, Br, I.
o   Analisis gugus, perlu diidentifikasi adanya inti benzen, fenol, alkohol polivalen, gugus mereduksi, aldehid, amina aromatik, gugus sulfon, gugus aldehid, dll.
o   Analisis pendahuluan, hal ini untuk mengetahui termasuk golongan apa senyawa yang diselidiki, termasuk: golongan karbohidrat, Fenol/salisilat, anilin, barbiturat, pirazolon, sulfonamid, alkaloid, atau piridin.
o   Reaksi penjurusan, mengamati perubahan warna sampel setelah direaksikan dengan menggunakan pereaksi Fehling A dan B, Vanilin test, Fluoresensi larutan H2SO4 encer, Murexide, Marquis, Virtali, Kufrifil Chen & Ko.
o   Reaksi khusus meliputi : zwikker kardizol, Hexamin, Santosin, uji borat, dan pengamatan bentuk kristal melalui mikroskop

Kation-kation logam mempunyai karakteristik reaksi dengan basa dalam hal wujud maupun sifat kelarutan produk yang bersangkutan khususnya dalam air. Pemberian basa (kuat) berlebih sering pula membawa efek lebih lanjut oleh karena karakteristik kation yang bersangkutan yang dikaitkan dengan sifat amfoterik. Di samping itu banyak kation-kation transisi sering membentuk senyawa kompleks dengan amin. Oleh karena itu identifikasi kation-kation dengan basa kuat NaOH dan basa lemah NH3 merupakan kegiatan yang menarik untuk dipahami dalam reaksi anorganik kualitatif.

III. ALAT DAN BAHAN
·         Tabung reaksi semimikro                        Larutan NaOH 0,5 M
·         Larutan NaOH 2 M                                Larutan NH3 2 M
·         Botol tetes                                               Larutan nitrat 0,1 M, Al3+, Ni2+, Ag+, Zn2+
·         Larutan NH3 2 M / NH4Cl                      Pipet pencet
·         Sentrifuge                                          

IV. PROSEDUR PERCOBAAN
1.      Tempatkan masing-masing 5 mL larutan kation nitrat yang telah disebutkan di atas, larutan NaOH (0,5 M), larutan NH3 (2 M) dan larutan NaOH (2 M) ke dalam botol tetes yang telah di beri label. Larutan-larutan tersebut akan digunakan sebagai stok larutan untuk percobaan yang akan dilakukan.
2.      Ke dalam 0,5 mL larutan Al(NO3)3 (0,1 M) tambahkan tetes demi tetes (kira-kira lima tetes) larutan NaOH (0,5 M). Volume NaOH (0,5 M) yang digunakan tidak boleh lebih dari 1 mL).
3.      Apabila endapan mulai terbentuk, larutan tersebut dibagi menjadi 2 bagian dan masing-masing ditempatkan dalam tabung semimikro. Kedua tabung tersebut diletakkan dalam sentrifuge dan diputar selama 1 menit. Pindahkan supernatant dengan pipet penjet.
a.       Pada tabung pertama, tambahkan larutan NaOH (2 M) ke dalam endapan yang terbentuk (volume total jangan lebih dari 1 mL).
b.      Pada tabung kedua, tambahkan larutan NH3 (2 M) ke dalam endapan yang terbentuk (volume total jangan lebih dari 1 mL).
4.      Ulangi langkah 2 dan seterusnya untuk larutan 0,1 M dari kation-kation : Ni2+, Ag+, Zn2+. Catat hasil pengamatan anda pada tabel yang terdapat pada lembar kerja.
5.      Catat kation-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan NaOH.
6.      Catat kation-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan NaOH tetapi (a) larut pada penambahan larutan NaOH berlebihan, (b) larut pada penambahan larutan ammonia berlebihan.
7.      a.  Tambahkan larutan Al(NO3)3 (0,1 M) secara perlahan-lahan ke dalam 1 mL larutan NaOH (2 M) catat hasil pengamatan anda.
b.      Tambahkan larutan AgNO3 (0,1 M) secara perlahan-lahan ke dalam 1 mL larutan NaOH (2 M) catat hasil pengamatan anda.
c.       Ulangi kegiatan (a) dan (b) tetapi urutan penambahan antar reaktan dibalik. Catat hasil pengamatan anda dan beri alasan mengapa demikian.

V. HASIL PENGAMATAN
1.      Tabel hasil pengamatan reaksi antara ion logam dengan ion hidroksida dan larutan ammoniak
Ion Logam
Pengamatan
Persamaan reaksi ionik
Al3+
Al(NO3)3 0,1 M + NaOH 0,5 M → terbentuk endapan putih
Al(NO3)3 0,1 M + NaOH 2 M → endapan larut
Al(NO3)3 0,1 M + NH3 → endapan sedikit larut
Al3+(aq) + 3 OH-(aq) → Al(OH)3(s)

Al(OH)3 (s) ↓ + OH- → [Al(OH)4]-(aq)

Al3+(aq) + 3 NH3(aq) + H2O(aq) → Al(OH)3(s) ↓ + 3 NH4+(aq)
Ag+
AgNO3 0,1 M + NaOH 0,5 M → terjadi endapan berwarna coklat
AgNO3 0,1 M + NaOH 2 M → endapan tidak larut
AgNO3 0,1 M + NH3 → endapan larut
2 Ag+(aq) + 2 OH-(aq) → Ag2O(s) ↓ + H2O
Ag2O(s) ↓ + OH-
Ag2O(s) ↓ + 4 NH3(aq) + H2O(aq) → 2 [Ag(NH3)2]+ + 2 OH-(aq)

2.      Kation-kation yang membentuk endapan pada penambahan NaOH yaitu : Al3+ dan Ag+
3.      Kation-kation yang membentuk endapan pada penambahan NaOH  tetapi larut dalam NaOH berlebihan yaitu : Al3+
4.      Kation-kation yang membentuk endapan pada penambahan NaOH tetapi larut dalam NH3 berlebihan yaitu : Al3+ dan Ag+
5.      Penambahan 0,1 M Al(NO3)3 tetes demi tetes ke dalam 2 M NaOH (1 mL); hasil pengamatan dan persamaan reaksi ionic :
Tidak terjadi endapan, saat tetes demi tetes larutan ditambahkan larutan menjadi seperti minyak
                 Al(NO3)3(aq) + NaOH(aq) → Al(OH)3(s) + NaNO3(aq)
6.      Penambahan 0,1 M AgNO3 tetes demi tetes ke dalam 2 M NaOH (1 mL); hasil pengamatan dan persamaan reaksi ionic :
Larutan menjadi berwarna bening kecoklatan dan terdapat endapan berwarna coklat di dasar tabung. Setelah didiamkan, larutan menjadi bening dan masih terdapat endapan.
7.      Kation mana yang menghasilkan reaksi kimia berbeda jika urutan penambahan reaktan diubah (dibalik), demikian juga untuk ion-ion pada kegiatan 5 :
Ada perbedaan, banyak tetesan mempengaruhi pembentukan endapan.
AgNO3 + NaOH endapan yang dihasilkan lebih banyak daripada endapan dari NaOH + AgNO3

VI. PERSAMAAN REAKSI
1.      Al3+(aq) + 3 OH-(aq) → Al(OH)3(s)
2.      Al(OH)3 (s) ↓ + OH- → [Al(OH)4]-(aq)
3.      Al3+(aq) + 3 NH3(aq) + H2O(aq) → Al(OH)3(s) ↓ + 3 NH4+(aq)
4.      2 Ag+(aq) + 2 OH-(aq) → Ag2O(s) ↓ + H2O
5.      Ag2O(s) ↓ + OH-
6.      Ag2O(s) ↓ + 4 NH3(aq) + H2O(aq) → 2 [Ag(NH3)2]+ + 2 OH-(aq)






VII. PEMBAHASAN

Percobaan kali ini mengenai reaksi kualitatif anorganik. Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari reaksi antara ion logam dengan ion hidroksida dan larutan amoniak. Percobaan yang dilakukan yakni menambahkan tetes demi tetes larutan ion hidroksida dengan konsentrasi encer yakni 0,5 M ke dalam larutan kation nitrat yang telah diketahui konsentrasinya (0,1 M). Setelah larutan kation nitrat ditetesi larutan ion hidroksida akan terbentuk endapan, pada larutan Al(NO3)3 terbentuk endapan Al(OH)3 yang berwarna putih. Sedangkan pada larutan AgNO3 terbentuk endapan Ag2O yang berwarna coklat.
Setelah endapan terbentuk larutan tersebut dibagi menjadi 2 bagian dan ditempatkan dalam tabung semimikro. Kedua tabung tersebut kemudian diletakkan dalam sentrifuge dan diputar selama 1 menit. Hal ini dilakukan guna memisahkan endapan dan filtrat pada larutan tersebut. Setelah itu supernatant dipindahkan dari tabung semimikro tersebut hingga hanya tersisa endapan pada tabung semimikro. Pada tabung pertama ditambahkan larutan NaOH 2 M dan tabung kedua ditambahkan larutan NH3 2 M.
Penambahan larutan NaOH 2 M pada endapan Al(OH)3 menyebabkan endapan melarut, hal ini terjadi karena terbentuk ion tetrahidroksidasoaluminat [Al(OH)4]- yang dapat melarut dalam air. Sedangkan penambahan larutan NH3 2 M pada endapan Al(OH)3 menyebabkan endapan hanya sedikit melarut. Hal ini terjadi karena penambahan amonia tidak menyebabkan terbentuknya ion kompleks yang dapat melarut dalam air sehingga walaupun sedikit melarut tetap tidak akan melarut dalam NH3 berlebih.
Penambahan larutan NaOH 2 M pada endapan Ag2O menyebabkan endapan tidak larut karena larutan NaOH berlebihan menyebabkan ion Ag+ membentuk endapan Ag2O sehingga endapan yang terbentuk tetap atau dengan kata lain tidak melarut. Sedangkan penambahan larutan NH3 berlebih pada endapan Ag2O menyebabkan endapan melarut, hal ini terjadi karena terbentuknya ion kompleks diaminaargentat [Ag(NH3)2] yang dapat melarut dalam air.
Pada percobaan terakhir dilakukan pengubahan urutan penambahan reaktan (dibalik) secara umum pengubahan urutan penambahan reaktan tidak begitu mempengaruhi hasil reaksi karena zat yang terbentuk sama walaupun urutan penambahan reaktan dibalik. Perbedaan yang terjadi yakni perbedaan banyaknya endapan namun hal ini dipengaruhi oleh banyak tetesan, sehingga endapan yang dihasilkan AgNO3 + NaOH lebih banyak daripada endapan dari NaOH + AgNO3.

VIII. KESIMPULAN

1.      Aluminium nitrat dan perak nitrat bereaksi dengan larutan NaOH membentuk endapan aluminium hidroksida dan perak oksida.
2.      Endapan aluminium hidroksida larut dalam larutan NaOH berlebih karena terbentuknya ion tetrahidroksidasoaluminat namun tidak dapat larut dalam larutan amonia berlebih.
3.      Endapan perak oksida tidak dapat larut dalam larutan NaOH berlebih namun dapat larut dalam larutan amonia berlebih karena terbentuknya ion diaminaargentat yang dapat larut dalam air.
4.      Pengubahan urutan penambahan reaktan tidak begitu mempengaruhi hasil reaksi karena zat yang terbentuk sama.

















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Analisis Kation. online (http://ahyari.com/analisis-kation/ diakses pada 1 Oktober 2011).

Anonim.2009.Analisis Kation. online (http://blogkita.info/analisis-kation/ diakses pada 1 Oktober 2011).

Anonim. 2009. Analisis kualitatif kation anion. Online (http://wiro-pharmacy.blogspot.com/2009/02/kuliah-analisis-kualitatif-kation-anion.html diakses pada 1 Oktober 2011).

Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. (Bagian II). PT. Kalman Media Pusaka: Jakarta




Sabtu, 12 November 2011

laporan Praktikum Kimia Anorganik 2 - Pembuatan Senyawa Koordinasi, [Ni(NH3)6]I2


       I.            Nomor Percobaan     : 4
    II.            Nama Percobaan      : Pembuatan Senyawa Koordinasi, [Ni(NH3)6]I2
 III.            Tujuan Percobaan     : Mempelajari pembuatan senyawa koordinasi [Ni(NH3)6]I2

IV.              Dasar Teori
Dalam ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau entitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ion logam. Dulunya, sebuah kompleks artinya asosiasi reversibel dari molekul, atom, atau ion melalui ikatan kimia yang lemah. Pengertian ini sekarang telah berubah. Beberapa kompleks logam terbentuk secara irreversibel, dan banyak di antara mereka yang memiliki ikatan yang cukup kuat
Senyawa-senyawa kompleks telah diketahui - walaupun saat itu belum sepenuhnya dimengerti - sejak awal ilmu kimia, misalnya Prussian blue dan Tembaga(II) sulfat. Terobosan penting terjadi saat kimiawan Jerman Alfred Werner, mengusulkan bahwa ion kobalt(III) memiliki enam ligan dalam struktur geometri oktahedral. Dengan teori ini, para ilmuwan dapat mengerti perbedaan antara klorida koordinasi dan klorida ionik pada berbagai isomer-isomer kobalt amina klorida, dan menjelaskan kenapa senyawa ini memiliki banyak isomer, yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan. Werner juga menggolongkan senyawa kompleks ini kepada beberapa isomer optis, mematahkan teori bahwa hanya senyawa karbon yang memiliki sifat khiralitas.
Pada dasarnya, dalam menamai sebuah senyawa kompleks:
1.      Dalam menamai sebuah ion kompleks, ligan disebutkan sebelum ion logam
2.      Nama-nama ligan dituliskan sesuai urutan alfabetis. (awalan yang menunjukkan jumlah tidak memengaruhi urutan alfabetis)
·         Berikan awalan pada ligan-ligan sesuai jumlahnya. Ligan-ligan monodentat memiliki awalan : di-, tri-, tetra-, penta-, heksa-, dst. sesuai jumlahnya. Ligan-ligan polidentat diberi awalan bis-, tris-, tetrakis-, dst.
·         Ligan anion diakhiri dengan huruf 'o', misalnya sulfat menjadi sulfato, dan jika anion tersebut memiliki akhiran -ida, maka akhiran tersebut dihilangkan misalnya sianida menjadi siano.
·         Ligan netral diberikan nama umumnya, kecuali amina untuk NH3, aqua atau aquo untuk H2O, karbonil untuk CO, dan nitrosil untuk NO
3.      Tuliskan nama ion/atom pusat. Jika ion kompleks tersebut merupakan sebuah anion, nama atom pusat diakhiri dengan -at, dan menggunakan nama Latinnya. Jika tidak, maka atom pusat dituliskan dengan nama umumnya dalam bahasa Indonesia. Jika diperlukan, tulis bilangan oksidasinya dalam angka romawi (atau 0), dalam tanda kurung
4.      Jika kompleks tersebut merupakan senyawa ion, tuliskan nama kation sebelum nama anion dipisahkan dengan spasi. Jika kompleks tersebut merupakan ion bermuatan, tuliskan kata "ion" sebelum nama kompleks tersebut
Contoh:
[NiCl4]2− → ion tetrakloronikelat(II)
[CuNH3Cl5]3− → ion aminapentaklorokuprat(II)
[Cd(en)2(CN)2] → disianobis(etilendiamin)kadmium(II)
[Co(NH3)5Cl]SO4 → pentaaminaklorokobalt(III) sulfat
Reaksi pengkompleksan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi, dengan gugus-gugus nukleofilik lain. Gugus-gugus yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan:
              M(H2O)n + L = M (H2O)(n-1) L + H2O
Disini ligan (L) dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, dengan penggantian molekul-molekul air berturut-turut selanjutnya dapat terjadi, sampai terbentuk kompleks MLn; n adalah bilangan koordinasi dari logam itu, dan menyatakan jumlah maksimum ligan monodentat yang dapat terikat padanya.
Ligan dapat dengan baik diklassifikasikan atas dasar banyaknya titik-lekat kepada ion logam. Begitulah, ligan-ligan sederhana, seperti ion-ion halida atau molekul-molekul H2O atau NH3, adalah monodentat,  yaitu ligan itu terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan satu pasanagan-elektron-menyendiri kepada logam. Namun, bila molekul atau ion ligan itu mempunyai dua atom, yang masing-masing mempunyai satu pasangan elektron menyendiri, maka molekul itu mempunyai dua atom-penyumbang, dan adalah mungkin untuk membentuk dua ikatan-koordinasi dengan ion logam yang sama; ligan seperti ini disebut bidentat dan sebagai contohnya dapatlah diperhatikan kompleks tris(etilenadiamina) kobalt(III), [Co(en)3]3+. Dalam kompleks oktahedral berkoordinat-6 (dari) kobalt(III), setiap molekul etilenadiamina bidentat terikat pada ion logam itu melalui pasangan elktron menyendiri dari kedua ataom nitrogennya. Ini menghasilkan terbentuknya tiga cincin beranggota-5, yang masing-masing meliputi ion logam itu; proses pembentukan cincin ini disebut penyepitan (pembentukan sepit atau kelat).
Ligan multidentat mengandung lebih dari dua atom-koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asam etilenadiaminatetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen-penyumbang dan empat atom oksigen-penyumbang dalam molekul, dapat merupakan heksadentat.
Spesi yang lompleks itu tak mengandung lebih dari satu ion logam, tetapi pada kondisi-kondisi yang sesuai, suatu kompleks binuklir, yaitu kompleks yang mengandung dua ion logam, atau bahkan suatu komleks polinuklir, yang mengansung lebih dari dua ion logam, dapat terbentuk. Begitulah, interaksi antar ion Zn2+ dan Cl- dapat menimbulkan pembentukan kompleks binuklir, misalnya [Zn2Cl6]2- disamping spesi seederhana seperti ZnCl3- dan ZnCl42-. Pembentukan kompleks binuklir dan polinuklir jelas akan lebih diuntungkan oleh konsentrasi yang tinggi ion logam itu; jika yang terakhir ini berada sebagai konstitusi runutan dari larutan, kompleks-kompleks polinuklir sangat kecil kemungkinannya akan terbentuk.
Dalam pelaksanaan analisis anorganik kualitatif banyak digunakan reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan senyawa kompleks. Suatu ion (atau molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion) pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom (ion) pusat itu. Atom pusat ini ditandai oleh bilangan koordinasi yaitu angka bulat yang menunjukan jumlah
ligan (monodentat) yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengn satu atom pusat.
Pada kebanyakan kasus, bilangan koordinasi adalah 6, (seperti dalam kasus Fe2+,
Fe3+, Zn2+, Cr3+, Co3+, Ni2+,Cd2+) kadang-kadang 4(Cu2+, Cu+, Pt2+), tetapi bilangan 2 (Ag+)dan 8 (beberapa ion dari golongan platinum) juga terdapat. Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tersedia disekitar atom atau
ion pusat dalam apa yang disebut bulatan koordinasi, yang masing-masingnya
dapat dihuni satu ligan (monodentat). Susunan logam-logam sekitar ion pusat
adalah simetris. Jadi, suatu kompleks dengan atom pusat dengan bilangan
koordinasi 6, terdiri dari ion pusat, dipusat suatu octahedron, sedangkan
keenam ligannya menempati ruang-ruang yang dinyatakan oleh sudut-sudut
octahedron. Bilangan koordinasi 4 biasanya menunjukkan susunan simetrisyang
berbentuk tetrahedron meskipun susunannya datar dimana ion pusat berada dipusat
suatu bujur sangkar dan keempat ionnya menempati keempat sudut bujursangkar
itu.
Ion-ion dan molekul-molekul anorganika sederhana seperti NH3, CN-,
Cl-, H2Omembentuk ligan modentat yaitu suatu ion atau
molekul menempati salah satu ruang yang tersedia dalam ion pusat dalam bulatan
koordinasi, tetapi ligan bidentat, (seperti ion dipiridil), tridentat dan
tetradentat juga banyak dikenal. Senyawa kompleks yang terdiri dari ligan-ligan
polidentat sering disebut sepit (chelate).     
Rumus dan nama beberapa ion senyawa kompleks adalah sebagai berikut:
[Fe(CN)6]4- heksasianoferat(II)        
[Fe(CN)6]3- heksasianoferat(III)                  
[Cu(NH3)4]2+ tetraaminatembaga(II)           
[Cu(CN)4]3- tetrasianokuprat(I)       
Dari contoh-contoh diatas, kaidah-kaidah tatanama tampak jelas. Atom pusat
diikuti dengan rumus ligan dengan bilangan indeks stoikiometri. Rumus ini
ditaruh antara tanda kurung siku-siku, dan muatan ionnya ditunjukkan diluar
tanda kurung menurut cara biasa. Bila menyatakan konsentrasi kompleks akan
dipakai tanda kurung tipe{} untuk memnghindari kekacauan. Dalam nama ionnya
mula-mula jumlah ligan lalu nama ligan lalu diikuti nama atom pusat serta
bilangan oksidasinya. G.N Lewis, ketika menguraikan teorinya tentang ikatan kimia yang didasarkan atas pembentukan pasangan electron, menerangkan tentang pembentukan senyawa
kompleks terjadi karena penyumbangan pasangan electron seluruhnya oleh suatu
atom ligan kepada atom pusat. Apa yang disebut ikatan datif ini kadang-kadang
dinyatakan dengan anak panah ynag menunjukan arah penyumbangan electron.
Teori medan ligan yang menyatakan pembentukan senyawa kompleks atas dasar medan
elektrostatik yang diciptakan oleh ligan-ligan koordinasi sekeliling bulatan
sebelah dalamdari atom pusat. Medan ligan menyebabkan penguraian tingkat energi
orbital orbital d atom pusat, uang lalu menghasilkan energi untuk menstabilkan
kompleks itu(energi stabilisasi medan ligan).          
Muatan suatu ion kompleks merupakan jumlah muatan ion-ion yang membentuk
kompleks itu
Ag+ + 2CN- → [Ag(CN)2]-                   
Cu2+ + 4CN- → [Cu(CN)4]2-
Jika molekul-molekul netral yang terlibat sebagai ligan dalam pembentukan
kompleks, muatan pada ion kompleks ion tetap sama seperti muatan pada atom
pusat:
Ag+ + 2NH3 → [Ag(NH3)2]+               
Ni2+ + 6NH3 → [Ni(NH3)6]2+              
Kompleks dengan ligan-ligan campuran bisa mempunyai muatan-muatan yang sangat
berbeda-beda:
Co3+ + 4NH3 + 2NO2- → [Co(NH3)4(NO2)2]+ (positif)        
Co3+ + 3NH3 + 3NO2- → [Co(NH3)3(NO2)3] (netral)           
Co3+ + 2NH3 + 4NO2- → [Co(NH3)2(NO2)4]- (negatif)        
Pembentukan kompleks dalam analisis anorganik kualitatif sering dipakai dan
dilihat untuk pemisahan atau identifikasi. Salah satu fenomena yang paling
sering muncul bila ion kompleks yang terbentuk adalah perubahan warna dalam
larutan
Beberapa contoh adalah:     
Cu2+ +4NH3 → [Cu(NH3)4]2+              
Biru biru tua gelap   
Fe3+ + 6F- → [FeF6]3-              
Kuning tak berwarna           
Suatu fenomena lain yang penting yang sering terlihat bila kompleks terbentuk
adalah kenaikan larutan; banyak endapan bisa melarut karena pembentukan senyawa
kompleks
AgCl + 2NH3 → [Ag(NH3)2]+ + Cl-
AgI + 2S2O32- → [Ag(S2O3)2]3- + I- 
Pembentukan senyawa kompleks adalah penyebab dari melarutnya endapan dalam
reagensia yang berlebihan:   
AgCN + CN- → [Ag(CN)2]-
      V.          Alat dan Bahan

·         Beker gelas 100 ml
·         Batang pengaduk
·         Corong Hirsch
·         Kertas saring
·         Silinder pengukur 10 ml
·         H2O2 3%
·         Ammonia 1 M
·         Etanol
·         Nikel klorida heksahidrat
·         Potassium iodide
·         Indicator amilum
·         Tabung reaksi dengan label


   VI.          Prosedur Percobaan
1.      Larutkan 1 gr nikel klorida heksahidrat dalam gelas beker yang berisi 5 ml air.
2.      Letakkan gelas beker tersebut dalam almari asap dan tambahkan 10 ml larutan NH3 pekat 15 M.
3.      Tambahkan ke dalam campuran tersebut 2,6 gr potassium iodide. Biarkan campuran tersebut beberapa menit.
4.      Kumpulkan Kristal yang terbentuk dalam corong Hirsch, cuci 2 kali dengan 2 ml larutan etanol 1:1 dan kemudian tambahkan 2 ml etanol.
5.      Keringkan Kristal di udara terbuka dengan diangin-angin selama beberapa menit.
6.      Pindahkan Kristal-kristal yang telah kering tersebut ke dalam kertas saring.
7.      Pindahkan kelebihan pelarut yang ada dengan menekan atau memampatkan kristal-kristal di antara 2 lembar kertas saring.
8.      Pindahkan hasilnya ke dalam tabung yang telah ditimbang beratnya dan diberi label. Timbang berat tabung beserta isinya dan hitunglah persentase berat yang dihasilkan berdasarkan jumlah nikel klorida heksahidrat yang digunakan.
9.      Lakukan tes pengujian adanya ion nikel dengan cara: larutkan sedikit sample (~0,1 g dalam 0,5 ml air) tambahkan 2 tetes larutan NH3 (5 M) dan kemudian tambahkan 5 tetes larutan dimetil glioksim, maka akan terbentuk endapan merah strawberry bila larutan mengandung nikel (II).
10.  Lakukan tes pengujian adanya ion iodide dengan cara: larutkan sedikit sample (~0,1 g dalam 0,5 ml air) dan asamkan dengan 2 tetes larutan asam sulfat 5 M kemudian tambahkan larutan H2O2 3%. Ujilah larutan tersebut dengan indicator amilum. Timbulnya warna biru kehitam-hitaman menunjukkan bahwa dalam larutan tersebut mengandung iodine.

   VII.       Hasil Pengamatan
1.      Pengamatan tes pengujian adanya ion nikel:
Kristal ungu + air → larutan biru keunguan + NH3 → larutan bening, terdapat endapan biru + dimetil glioksim → larutan menjadi berwarna merah strawberry yang menunjukkan adanya Ni.
2.      Persamaan reaksi ionic:
Ni(s) + 6 H2O(l) → [Ni(H2O)6]2+
Ni2+ + 2 NH3 + 2 H2O → [Ni(H2O)6]2+ + 2 OH-
Ni(OH)2 + 6 NH3 → [Ni(NH3)6]2+ + 2 OH-
[Ni(NH3)6]2+ + 2 OH- + 2 KI → [Ni(NH3)6]I2 + KOH
3.      Pengamatan tes pengujian adanya ion iodide:
Kristal ungu + air → larutan keruh, berwarna biru keunguan + H2SO4 → larutan bening, ada endapan ungu + amilum → larutan biru kehitaman, endapan biru.
4.      Persamaan reaksi:
[Ni(NH3)6]I2 + H2O + H2SO4 → [Ni(NH3)6] + 2 I- + H2SO4 + H2O
H2O2 + 2 I- + 2 H+ → I2 + 2 H2O
5.      Massa kompleks: 0,64 g
Mengapa diperlukan penambahan larutan asam sulfat untuk tes pengujian ion iodide?
Asam sulfat pada uji iodide ditambahkan agar larutan berada dalam suasana asam dan juga bertindak sebagai katalisator yaitu untuk mempercepat pelepasan iod pada saat penambahan H2O2.
6.      Mengapa diperlukan penambahan larutan ammonia untuk tes pengujian ion nikel?
Karena endapan merah nikel dimetil glioksim lebih cepat terbentuk dalam suasana basa + ammonia.

VIII.       Pembahasan
Pembentukan senyawa kompleks adalah salah satu karakteristik logam transisi. Logam transisi pada senyawa [Ni(NH3)6]I2 adalah logam Ni. Senyawa kompleks [Ni(NH3)6]I2 ini didapat dengan mereaksikan nikel sulfat heksahidrat dengan larutan ammonia pekat kemudian ditambah dengan larutan KI.
Nikel sulfat heksahidrat merupakan zat padat berwarna hijau. Awalnya, padatan ini dilarutkan dahulu dalam air, yang menghasilkan larutan berwarna hijau. Ditambahkan ammonia maka larutan menjadi berwarna biru. Lalu ditambah KI maka larutan menjadi ungu dan terbentuk endapan. Endapan yang terbentuk berwarna ungu ini kemudian dibilas larutan etanol dan ditambahkan etanol.
Penambahan etanol pada endapan ini bertujuan agar endapan yang didapat merupakan kristal murni. Etanol disini befungsi sebagai pelarut. Etanol memiliki titik didih rendah sehingga udah menguap dan mengakibatkan mudah tebentuknya kristal. Selain itu, etanol tidak bereaksi dengan endapan yang didapatkan.
Pada uji nikel, ke dalam kristal [Ni(NH3)6]I2 yang terlebih dulu dilarutkan dalam air ditambahkan larutan ammonia dan dimetil glioksim. Endapan yang dihasilkan dari reaksi ini adalah endapan berwarna merah strawberry. Endapan merah strawberry ini menunjukkan adanya ion nikel dalam larutan itu. Endapan merah ini terbentuk dari larutan yang tepat basa dengan ammonia. Jadi, fungsi penambahan ammonia adalah agar larutan berada dalam suasana basa. Endapan ini adalah Ni(C­4H7N2O2)3.
Untuk uji iodide, dilakukan dengan penambahan larutan asam sulfat ke dalam endapan [Ni(NH3)6]I2 yang telah dilarutkan ke dalam air terlebih dahulu. Kemudian ditambahkan H2O2 dan larutan amilum. Fungsi penambahan asam sulfat adalah agar endapan berada dalam suasana asam, sehingga mudah dioksidasi menjadi iod bebas dengan sejumlah zat pengoksidasi. Larutan amilum berfungsi sebagai indicator. Setelah ditambahkan amilum, terjadi perubahan pada larutan, yaitu berubah warna menjadi biru kehitaman. Warna inilah yang menunjukkan adanya ion iodide pada larutan.

      IX.       Kesimpulan
1.      Logam transisi dalam senyawa [Ni(NH3)6]I2 adalah Ni.
2.      Endapan berwarna merah strawberry pada uji ion nikel menunjukkan adanya ion nikel dalam larutan sample tersebut.
3.      Fungsi penambahan ammonia pekat pada uji nikel adalah agar larutan berada dalam suasana basa.
4.      Larutan berwarna biru kehitaman setelah ditambahkan indicator amilum pada uji iodide menunjukkan adanya ion iodide pada larutan tersebut.
5.      Fungsi penambahan asam sulfat pada uji nikel adalah agar larutan berada dalam suasana asam, sehingga mudah dioksidasi menjadi iod bebas dengan sejumlah zat pengoksidasi.




         X.       Daftar Pustaka

Anonim. Senyawa Koordinasi, (Online), (http://id.wikipedia.org, diakses tanggal 16 Oktober 2011).
Anonim. 2009. Pembuatan Senyawa Kompleks Fe4[Fe(CN)6]3, (Online), (http://kik.php0h.com/cetak.php?id=20, diakses tanggal 16 Oktober 2011).       
Firdaus, Ikhsan. 2009. Pengertian Senyawa Kompleks, (Online), (http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kompleksometri/pengertian-senyawa-kompleks/, diakses tanggal 16 Oktober 2011).